TRINITAS: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi

Posted by mbah on Saturday, September 24, 2011

Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi – TRINITAS. Walaupun kita mengetahui bahwa konsep Trinitas ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan akal, bukan berarti bahwa Allah Tritunggal ini adalah konsep yang sama sekali tidak masuk akal. Berikut ini adalah sedikit uraian bagaimana kita dapat mencoba memahami Trinitas, walaupun pada akhirnya harus kita akui bahwa adanya tiga Pribadi dalam Allah yang Satu ini merupakan misteri yang tidak cukup kita jelaskan dengan akal, sebab jika dapat dijelaskan dengan tuntas, maka hal itu tidak lagi menjadi misteri. St. Agustinus bahkan mengatakan, “Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah”.[1] Sebab Allah jauh melebihi manusia dalam segala hal, dan meskipun Ia telah mewahyukan Diri, Ia tetap tinggal sebagai rahasia/ misteri yang tak terucapkan. Di sinilah peran iman, karena dengan iman inilah kita menerima misteri Allah yang diwahyukan dalam Kitab Suci, sehingga kita dapat menjadikannya sebagai dasar pengharapan, dan bukti dari apa yang tidak kita lihat (lih. Ibr. 11:1-2). Agar dapat sedikit menangkap maknanya, kita perlu mempunyai keterbukaan hati. Hanya dengan hati terbuka, kita dapat menerima rahmat Tuhan, untuk menerima rahasia Allah yang terbesar ini; dan hati kita akan dipenuhi oleh ucapan syukur tanpa henti.

Mungkin kita pernah mendengar orang yang menjelaskan konsep Allah Tritunggal dengan membandingkan-Nya dengan matahari: yang terdiri dari matahari itu sendiri, sinar, dan panas. Atau dengan sebuah segitiga, di mana Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus menempati masing-masing sudut, namun tetap dalam satu segitiga. Bahkan ada yang mencoba menjelaskan, bahwa Trinitas adalah seperti kopi, susu, dan gula, yang akhirnya menjadi susu kopi yang manis. Penjelasan yang menggunakan analogi ini memang ada benarnya, namun sebenarnya tidak cukup, sehingga sangat sulit diterima oleh orang-orang non-Kristen. Apalagi dengan perkataan, ‘pokoknya percaya saja’, ini juga tidak dapat memuaskan orang yang bertanya. Jadi jika ada orang yang bertanya, apa dasarnya kita percaya pada Allah Tritunggal, sebaiknya kita katakan, “karena Allah melalui Yesus menyatakan Diri-Nya sendiri demikian”, dan hal ini kita ketahui dari Kitab Suci.

Doktrin Trinitas atau Allah Tritunggal Maha Kudus adalah pengajaran bahwa Tuhan adalah SATU, namun terdiri dari TIGA pribadi: 1) Allah Bapa (Pribadi pertama), 2) Allah Putera (Pribadi kedua), dan Allah Roh Kudus (Pribadi ketiga). Karena ini adalah iman utama kita, maka kita harus dapat menjelaskannya lebih daripada hanya sekedar menggunakan analogi matahari, segitiga, maupun kopi susu.

Syahadat ‘Aku Percaya’ menyatakan bahwa rahasia sentral iman Kristen adalah Misteri Allah Tritunggal. Maka Trinitas adalah dasar iman Kristen yang utama yang disingkapkan dalam diri Yesus. Seperti kita ketahui di atas, iman kepada Allah Tritunggal telah ada sejak zaman Gereja abad awal, karena didasari oleh perkataan Yesus sendiri yang disampaikan kembali oleh para murid-Nya. Jadi, tidak benar jika doktrin ini baru ditemukan dan ditetapkan pada Konsili Konstantinopel I pada tahun 359! Yang benar ialah: Konsili Konstantinopel I mencantumkan pengajaran tentang Allah Tritunggal secara tertulis, sebagai kelanjutan dari Konsili Nicea (325), dan untuk menentang heresies (ajaran sesat) yang berkembang pada abad ke-3 dan ke-4, seperti Arianisme (oleh Arius 250-336, yang menentang kesetaraan Yesus dengan Allah Bapa) dan Sabellianisme (oleh Sabellius 215 yang membagi Allah dalam tiga modus, sehingga seolah ada tiga Pribadi yang terpisah).

Dari sejarah Gereja kita melihat bahwa konsili-konsili diadakan untuk menegaskan kembali ajaran Gereja (yang sudah berakar sebelumnya) dan menjaganya terhadap serangan ajaran-ajaran sesat/ menyimpang. Jadi yang ditetapkan dalam konsili merupakan peneguhan ataupun penjabaran ajaran yang sudah ada, dan bukannya menciptakan ajaran baru. Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan semakin menyadari bahwa Tuhan Yesus sendiri menjaga Gereja-Nya: sebab setiap kali Gereja ‘diserang’ oleh ajaran yang sesat, Allah mengangkat Santo/Santa yang dipakai-Nya untuk meneguhkan ajaran yang benar dan Yesus memberkati para penerus rasul dalam konsili-konsili untuk menegaskan kembali kesetiaan ajaran Gereja terhadap pengajaran Yesus kepada para Rasul. Lebih lanjut mengenai hal ini akan dibahas di dalam artikel terpisah, dalam topik Sejarah Gereja.

Berikut ini adalah Dogma tentang Tritunggal Maha Kudus menurut Katekismus Gereja Katolik, yang telah berakar dari jaman jemaat awal:

1. Tritunggal adalah Allah yang satu. Pribadi ini tidak membagi-bagi ke-Allahan seolah masing-masing menjadi sepertiga, namun mereka adalah ‘sepenuhnya dan seluruhnya’. Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa; dan Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah dengan kodrat yang sama. Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada di dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada di dalam Bapa, dan seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus ada seluruhnya di dalam Bapa, dan seluruhnya di dalam Putera.
2. Ketiga Pribadi ini berbeda secara real satu sama lain, yaitu di dalam hal hubungan asalnya: yaitu Allah Bapa yang ‘melahirkan’, Allah Putera yang dilahirkan, Roh Kudus yang dihembuskan.
3. Ketiga Pribadi ini berhubungan satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam hal asal tersebut tidak membagi kesatuan ilahi, namun malah menunjukkan hubungan timbal balik antar Pribadi Allah tersebut. Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya. Hakekat mereka adalah satu, yaitu Allah.

Jadi bagaimana kita menjelaskan Trinitas?

Kita akan mencoba memahaminya dengan bantuan filosofi. Dengan pendekatan filosofi, maka diharapkan kita akan dapat masuk ke dalam misteri iman, sejauh apa yang dapat kita jelaskan dengan filosofi. Dengan demikian, filosofi melayani teologi. Untuk menjelaskan Trinitas, pertama-tama kita harus mengetahui terlebih dahulu beberapa istilah kunci, yaitu apa yang disebut sebagai substansi/ hakekat/ kodrat dan apa yang disebut sebagai pribadi/ hypostatis. Pengertian kedua istilah ini diajarkan oleh St. Gregorius dari Nasiansa. Kedua, bagaimana menjelaskan prinsip Trinitas dengan argumentasi kenapa hal ini sudah sepantasnya terjadi atau “argument of fittingness.” Ketiga, kita dapat menjelaskan konsep Trinitas dengan argumen definisi kasih. Berikut ini mari kita lihat satu persatu.

Arti ‘substansi/ hakekat’ dan ‘pribadi’
‘Substansi’ (kadang diterjemahkan sebagai hakekat/ kodrat) dari diri kita adalah ‘manusia’. Kodrat sebagai manusia ini adalah sama untuk semua orang. Tetapi jika kita menyebut ‘pribadi’ maka kita tidak dapat menyamakan orang yang satu dengan yang lain, karena setiap pribadi itu adalah unik. Dalam bahasa sehari-hari, pribadi kita masing-masing diwakili oleh kata ‘aku’ (atau ‘I’ dalam bahasa Inggris), di mana ‘aku’ yang satu berbeda dengan ‘aku’ yang lain. Sedangkan, substansi/ hakekat kita diwakili dengan kata ‘manusia’ (atau ‘human’). Analogi yang paling mirip (walaupun tentu tak sepenuhnya menjelaskan misteri Allah ini) adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh dalam diri kita. Tanpa jiwa, kita bukan manusia, tanpa tubuh, kita juga bukan manusia. Kesatuan antara jiwa dan tubuh kita membentuk hakekat kita sebagai manusia, dan dengan sifat-sifat tertentu membentuk kita sebagai pribadi.

Dengan prinsip yang sama, maka di dalam Trinitas, substansi/hakekat yang ada adalah satu, yaitu Tuhan, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa. Putera dan Roh Kudus. Tiga pribadi manusia tidak dapat menyamai makna Trinitas, karena di dalam tiga orang manusia, terdapat tiga “kejadian”/ ‘instances‘ kodrat manusia; sedangkan di dalam tiga Pribadi ilahi, terdapat hanya satu kodrat Allah, yang identik dengan ketiga Pribadi tersebut. Dengan demikian, ketiga Pribadi Allah mempunyai kesamaan hakekat Allah yang sempurna, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna. Yang membedakan Pribadi yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hal hubungan timbal balik antara ketiganya.

Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang mempunyai akal budi. Akal budi yang berada dalam jiwa manusia inilah yang menjadikan manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Akal budi, yang terdiri dari intelek (intellect) dan keinginan (will) adalah anugerah Tuhan kepada umat manusia, yang menjadikannya sebagai ‘gambaran’ Allah sendiri.

Nah, intelek dan keinginan tersebut memampukan manusia melakukan dua perbuatan prinsip yang menjadi ciri khas manusia, yaitu: mengetahui dan mengasihi. Kemampuan mengetahui sesuatu tidaklah menunjukkan kesempurnaan manusia, karena kita menyadari bahwa komputer-pun dapat ‘mengetahui’ lebih banyak daripada kita, kalau dimasukkan program tertentu, seperti kamus atau ensiklopedia. Namun, yang membuat manusia istimewa adalah kerjasama antara intelek dan keinginan, jadi tidak sekedar mengetahui, tetapi dapat juga mengasihi. Jadi hal ‘mengasihi’ inilah yang menjadikannya sebagai mahluk yang tertinggi jika dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan, apalagi dengan benda-benda mati.

Kita mengenal peribahasa “kalau tak kenal, maka tak sayang“. Peribahasa ini sederhana, namun berdasarkan suatu argumen filosofi, yaitu “mengetahui lebih dahulu, kemudian menginginkan atau mengasihi.” Orang tidak akan dapat mengasihi tanpa mengetahui terlebih dahulu. Bagaimana kita dapat mengasihi atau menginginkan sesuatu yang tidak kita ketahui? Sebagai contoh, kalau kita ditanya apakah kita menginginkan komputer baru secara cuma-cuma? Kalau orang tahu bahwa dengan komputer kita dapat melakukan banyak hal, atau kalaupun kita tidak memakainya, kita dapat menjualnya, maka kita akan dengan cepat menjawab “Ya, saya mau.” Namun kalau kita bertanya kepada orang pedalaman yang tidak pernah mendengar atau tahu tentang barang yang bernama komputer, maka mereka tidak akan langsung menjawab “ya”. Mereka mungkin akan bertanya dahulu, “komputer itu, gunanya apa?” Di sini kita melihat bahwa tanpa pengetahuan tentang barang yang disebut sebagai komputer, orang tidak dapat menginginkan komputer.

Nah, berdasarkan dari prinsip “seseorang tidak dapat memberi jika tidak lebih dahulu mempunyai” aka Tuhan yang memberikan kemampuan pada manusia untuk mengetahui dan mengasihi, pastilah memiliki kemampuan tersebut secara sempurna. Jika kita mengetahui sesuatu, kita mempunyai konsep tentang sesuatu tersebut di dalam pikiran kita, yang kemudian dapat kita nyatakan dalam kata-kata. Maka, di dalam Tuhan, ‘pengetahuan’ akan Diri-Nya sendiri dan segala sesuatu terwujud di dalam perkataan-Nya, yang kita kenal sebagai “Sabda/ Firman”; dan Sabda ini adalah Yesus, Sang Allah Putera.

Jadi, di dalam Pribadi Tuhan terdapat kegiatan intelek dan keinginan yang terjadi secara sekaligus dan ilahi, yang mengatasi segala waktu, yang sudah terjadi sejak awal mula dunia. Kegiatan intelek ini adalah Allah Putera, Sang Sabda (“The Word“). Rasul Yohanes mengatakan pada permulaan Injilnya, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1:1). Selanjutnya, kesempurnaan manusia sebagai mahluk personal dinyatakan, tidak hanya melalui kemampuannya untuk mengetahui, namun juga mengasihi, yaitu memberikan dirinya kepada orang lain dalam persekutuannya dengan sesama. Maka ‘mengasihi’ di sini melibatkan pribadi yang lain, yang menerima kasih tersebut. Kalau hal ini benar untuk manusia pada tingkat natural, maka di tingkat supernatural ada kebenaran yang sama dalam tingkatan yang paling sempurna. Jadi Tuhan tidak mungkin Tuhan yang ‘terisolasi’ sendirian, namun “keluarga Tuhan”, dimana keberadaan-Nya, kasih-Nya, dan kemampuan-Nya untuk bersekutu dapat terwujud, dan dapat menjadi contoh sempurna bagi kita dalam hal mengasihi. Dalam hal ini, hubungan kasih timbal balik antara Allah Bapa dengan Putera-Nya (Sang Sabda) ‘menghembuskan’ Roh Kudus; dan Roh Kudus kita kenal sebagai Pribadi Allah yang ketiga.
More about → TRINITAS: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi

Pelajaran 7: Hati Nurani

Posted by Unknown

Arti dan makna Hati nurani
Etimologi Hati nurani berasal dari kata Yunani suneidêsis padanan katanya dalam bahasa Latin conscientia memberi kesan bahwa artinya yang biasa ialah pengetahuan pendamping, atau kecakapan untuk pengetahuan bersama dengan dirinya sendiri. Dengan kata lain, hati nurani mengandung dalamnya lebih daripada hanya kesadaran atau penginderaan, karena kata ini mencakup juga penghakiman dalam Alkitab memang penghakiman moral atas suatu perbuatan yang dilakukan dengan sadar.

Dalam arti luas: Hati nurani berarti kesadaran moral yang tumbuh dan berkembang dalam hati manusia. Keinsafan akan adanya kewajiban.
Dalam arti sempit: Hati nurani merupakan penerapan kesadaran moral di atas dalam situasi konkret. suara hati menilai suatu tindakan manusia benar atau salah, baik atau buruk. Hati nurani tampil sebagai hakim yang baik dan jujur, walaupun dapat keliru.

Segi-segi hati nurani
segi waktu: Hati nurani dapat berperan sebelum tindakan dibuat. Biasanya hati nurani akan menyuruh bila itu perbuatan baik dan akan melarang jika perbuatan buruk. Hati nurani dapat berperan pada saat tindakan dilakukan. Ia akan terus menyuruh jika perbuatan itu baik dan melarang jika perbuatan itu buruk atau jahat. Hati nurani dapat berperan sesudah tindakan dibuat. Hati nurani akan memuji jika perbuatan kita baik dan hati nurani akan membuat kita gelisah dan menyesal jika perbuatan itu buruk atau jahat.

Segi benar tidaknya: Hati nurani benar, jika hati kita cocok dengan norma objektif. Hati nurani keliru jika kata hati kita tidak cocok dengan norma objektif.

Pedoman yang Dapat Dipegang
Dari penjelasan-penjelasan di atas, maka ada beberapa hal yang dapat dijadikan pedoman, yakni sebagai berikut
a. Kata hati (hati nurani) yang benar dan pasti, maka: Perbuatan yang baik dapat dan harus dilakukan; Perbuatan yang buruk harus dielakkan.
b. Kata hati yang pasti, tetapi keliru, maka: Perbuatan yang baik dapat dan harus dilakukan. (Misalnya, seorang remaja merasa pasti bahwa hari Senin adalah hari puasa, maka ia harus berpuasa, walaupun keliru). Perbuatan yang buruk harus dielakkan. (Misalnya, seorang remaja merasa pasti bahwa mencium kekasihnya adalah dosa, maka ia harus harus mengelakkannya, walaupun keliru).
c. Kata hati yang tidak pasti: Seseorang dapat memilih yang paling menguntungkan. Misalnya, hati nurani seseorang tidak merasa pasti apakah hari ini puasa atau tidak, maka ia boleh memilih yang menguntungkan dia. Jika menyangkut nyawa manusia, maka keselamatan nyawa itu harus didahulukan. Misalnya, jika seseorang tidak merasa pasti bahwa suatu cara KB bersifat abortif atau tidak, maka ia harus menolak cara itu, sebab menyangkut nyawa manusia.

Cara Kerja Hati Nurani
Dalam hati manusia, sebelum ia bertindak atau berbuat sesuatu, ia sudah mempunyai suatu kesadaran atau pengetahuan umum bahwa ada yang baik dan ada yang buruk. Setiap orang memiliki kesadaran moral tersebut, walaupun kadar kesadarannya berbeda-beda. Pada saat-saat menjelang suatu tindakan etis, pada saat itu kata hati akan mengatakan perbuatan itu balk atau buruk. Jika perbuatan itu baik, kata hati muncul sebagai suara yang menyuruh. Namun, jika perbuatan itu buruk, kata hati akan muncul sebagai suara yang melarang. Kata hati yang muncul pada saat ini disebut prakata hati. Pada saat suatu tindakan dijalankan, kata hati masih tetap bekerja, yakni menyuruh atau melarang. Sesudah suatu tindakan atau perbuatan, maka kata hati muncul sebagai “hakim” yang memberi vonis. Untuk perbuatan yang baik, kata hati akan memuji, sehingga membuat orang merasa bangga dan bahagia. Namun, jika perbuatan itu buruk atau jahat, maka kata hati akan mencela/menyalahkan, sehingga orang merasa gelisah, malu, menyesal, putus asa, dsb. Demikianlah, kata hati muncul sebagai indeks (petunjuk), kemudian sebagai iudex (hakim) dan sekaligus vindex (penghukum).

Fungsi Hati Nurani dan Sikap Kita Terhadapnya
a. Fungsi hati nurani: Hati nurani berfungsi sebagai pegangan, pedoman, atau norma untuk menilai suatu tindakan, apakah tindakan itu baik atau buruk; Hati nurani berfungsi sebagai pegangan atau peraturan-peraturan konkret di dalam kehidupan sehari-hari; Hati nurani berfungsi menyadarkan manusia akan nilai dan harga dirinya.
b. Sikap kita terhadap hati nurani: Menghomati setiap suara hati yang keluar dari hati nurani kita; Mendengarkan dengan cermat dan teliti setiap bisikan hati nurani; Mempertimbangkan secara masak dan dengan pikiran sehat apa yang dikatakan oleh hati nurani; Melaksanakan apa yang disuruh oleh hati nurani.

Apakah Hati Nurani mencerminkan suara hati sama dengan suara yang pelan? Suara hati adalah suara halus dan murni datang langsung dari kesadaran sang Hidup yang ada di dalam diri kita paling dalam yang bersih dan jujur, tanpa pertimbangan dalam memberikan jawaban. Suara hati akan membawa kita kepada keselamatan dan kebahagiaan, asalkan kita dapat mendengarkannya dengan jelas dan meyakininya kemudian mempraktikkannya dalam kehidupan. Suara hati ini tidak akan keluar apabila hati nurani dalam keadaan tertutup oleh kotoran-kotoran (dosa) yang menutupnya. Dalam keadaan yang demikian, yang keluar bukan suara hati nurani melainkan emosi. Memang untuk pertama kali sulit membedakan suara-suara yang datang dari dalam diri kita, ini hanya dapat dicapai melalui latihan dan pembuktian.
More about → Pelajaran 7: Hati Nurani

Pelajaran 6: Tugas Pria dan Wanita

Posted by Unknown

Pada umumnya, masyarakat masih berpandangan bahwa pria lebih unggul dari pada wanita, sehingga banyak lagi yang tidak adil terhadap wanita. Masyarakat tradisional lebih masih beranggapan peranan tugas wanita terbatas pada urusan dapur, meja makan dan tempat tidur. Bahkan dikatakan bahwa wanita bertugas untuk mengabdi pada laki-laki dan menjadi milik laki-laki. Secara kodrati pria dan wanita itu sederajat. Pria dan wanita diciptakan sederajat dengan pria, mereka akan saling melengkapi satu sama lain. Kej 2:18 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Perendahan Martabat Kaum Perempuan
Perendahan martabat kaum perempuan sudah berlangsung sejak lama. Kaum perempuan senantiasa di posisikan lebih rendah. Berikut pandangan beberapa filsof:
Plato: “perempuan adalah degradasi laki-laki. Seorang laki-laki pengecut pada kelahirannya akan menjadi perempuan.”
Aristoteles: “Andaikata wanita punya jiwa, maka jiwa yang dimilikinya tidak sepenuh yang dimiliki laki-laki”
Pasdhon, Schopenhauer, dan Nietsche: “Wanita adalah bentuk pengurangan laki-laki, dalam hubungan dalam reproduksi, mereka menyatakan kaum laki-laki tidak dapat berreproduksi, justru karena ia adalah mahluk yang transenden dan disinilah letak kehormatan dan kemuliaannya. Wanita dianggap lebih rendah atau hina justru karena mereka mahluk yang bereproduksi.

Mengapa terjadi perendahan terhadap perempuan, bahkan martabatnya pun direndahkan dan dilecehkan. ternyata ada dua alasan: pertama budaya patriarki dan stereotip yang diciptakan oleh media.
Budaya Patriarkhi, mengajarkan bahwa garis keturunan anak ditentukan oleh garis keturunan ayah, maka semua pranata social tentang kehidupan dilatarbelakangi oleh pandangan patriarkhi. Ayah menjadi penentu keturunan, maka dalam proses kehidupan laki-laki, kekuasaan yang menjadi system yang kuat dan dianggap benar. Sementara itu dizaman media massa ini, wanita sering diekpoitasi untuk suatu kepentingan yang bersifat ekonomis atau entertainment.

Peran dan tugas pria dan wanita
Peranan dan tugas pria. Dari seluruh bagian tubuhnya, makan perenan dan tugas pria pada dasarnya adalah: Melindungi dan menyejahterakan, menjadi kekasih dan partner, menjadi “bapa” yang memberi benih kehidupan.
Peranan dan tugas wanita. Menciptakan keindahan dan keharmonisan, menerima-mengandung-melahirkan dan memelihara, mengasihi tanpa pamrih.

Peranan/tugas pria dan wanita sebagai pasangan
Pria dan wanita bertugas untuk beranak cucu. Menguasai-manata dan melestarikan alam ciptaan Tuhan. Cinta pria dan wanita harus menjadi tanda cinta Allah kepada UmatNya dan cinta Kristus kepada Gerejanya.
More about → Pelajaran 6: Tugas Pria dan Wanita

Pelajaran 5: Kepriaan dan Kewanitaan

Posted by Unknown

Antara pria dan wanita ada perbedaan yang mencolok pada rambut, mata, pipi, mulut, leher dsb. Pada remaja putrid terlihat lebih halus sedangkan remaja pria terlihat lebih kekar. Perbedaan yang mendasar pria dan wanita adalah pada organ kelamin. Organ ini bekerja sungguh-sungguh ketika manusia berumur 12, 13, 14, atau 15 tahun.

Perbedaan antara pria dan wanita dari segi psikologis
Perbedaan cara berfikir. cara berfikir wanita lebih intuitif dan konkret, sedangkan cara pria lebih objektif, teoritis dan abstrak. Wanita lebih berfikir hal-hal yang kecil dan bersifat sehari-hari, sedangkan pria lebih senang pada pikiran global dan jangkauannya jauh. Wanita senang pada hal-hal kecil seperti make up, bunga, pacar dsb. sedangkan pria berfikir global dan jauh di masa depan, cita-cita, karier, dsb. Pikiran wanita lebih terarah hal-hal yang diluar dirinya, ia akan mengingat orang tuanya, adiknya, pacarnya, dsb. sedangkan pria lebih bersifat egosentris. Jika mengingat pacar, mungkin saja demi kepuasannya.
Perbedaan perasaan. Perasaan wanita agak mudah bergetar, sedangkan pria lebih dapat terkendali. Pria lebih dapat melupakan perasaannya karena gaya berfikirnya yang objektif, pria dapat membendung perasaannya karena gaya berfikirnya yang objektif. Pria mudah sekali jatuh cinta sekali pandang, tetapi mudah juga melupakannya.
Perbedaan Sikap dan tindakan. Umumnya pria itu lebih bersikap agresif, berbuat dan membangun. sedangkan wanita pada umumnya bersifat pasif, menerima dan memelihara.
More about → Pelajaran 5: Kepriaan dan Kewanitaan

Pelajaran 4: Sebagai Citra Allah Saya dan Sesama Adalah Saudara

Posted by Unknown

Pertikaian dan pertengkaran, bahkan memunculkan peperangan dipicu dari 2 hal yaitu adanya diskriminatif dan fanatisme yang berlebihan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia diskriminasi diartikan sbb: diskriminasi adalah pembedaan perlakuan thd sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dsb); diskriminasi kelamin pembedaan sikap dan perlakuan thd sesama manusia berdasarkan perbedaan jenis kelamin; diskriminasi ras anggapan segolongan ras tertentu bahwa rasnya itulah yg paling unggul dibandingkan dng golongan ras lain; rasisme; diskriminasi rasial pembedaan sikap dan perlakuan thd kelompok masyarakat tertentu krn perbedaan warna kulit; diskriminasi sosial pembedaan sikap dan perlakuan thd sesama manusia berdasarkan kedudukan sosialnya; mendiskriminasikan sebagai kata kerja berarti melakukan atau membuat diskriminasi: di negara kita masih banyak pola tingkah laku sosial yg mendiskriminasi perempuan. Sedangakan Fanatik berarti teramat kuat kepercayaan (keyakinan) thd ajaran (politik, agama, dsb): tokoh partai itu berada di tengah-tengah pengikutnya yg fanatik; memfanatiki dapat diartikan meyakini (ajaran, kepercayaan, dsb) dng teramat kuat: segelintir orang cenderung mendukung, membela, dan memfanatiki ajaran sesat yg dibawa oleh pendatang baru itu.

A. Sebab munculnya sikap-sikap diskriminatif dan fanatic.
Ada beberapa hal yang menjadi sebab munculnya sikap diskriminatif dan fanatic yang berlebihan. Pertama karena kebodohan, kekurang pahaman dan kepicikan. Hal-hal tersebut menjadi aspek yang paling besar, dimana seseorang dapat dipengaruhi karena pengetahuannya yang kurang, atau hanya setengah-setengah. orang yang sungguh cerdas dan bijaksana tidak akan bersikap fanatic dan diskriminatif. Kedua, Adanya perasaan terancam. Misalnya adanya isu Kristenisasi atau Islamisasi dapat membuat orang Kristen dan Islam bersikap fanatik

B. Jalan keluar untuk menjauhkan
Ada beberapa jalan keluar yang tepat untuk menjauhkan dari sikap Diskriminatif dan fanatic, antara lain:
1. Bersikap dan berprilaku moderat: Menjauhkan diri dari sikap berlebihan dan ekstreem.
2. Berpola pikir Pluralis: situasi majemuk membuat kita untuk berfikir berprilaku terbuka.
3. Tidak mudah menghakimi: Hendaknya kita tidak mudah menghakimi orang lain, lebih mawas diri dan koreksi diri. Kita tidak boleh menghakimi orang lain, lebih baik kita serahkan penghakiman kepada Allah. “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (lih Yoh 8:8)
4. Membuka pilihan-pilihan yang kompromistik tanpa mengorbankan prinsip.
5. Keteladan orang tua.

Kesetaraan martabat. Manusia memiliki martabat yang sama. Manusia diciptakan sebagai citra Allah yang sama. Setiap manusia diciptakan sebagai pribadi yang diberi akal budi, kebebasan, hati nurani, dan dituntut untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. setiap orang menurut kodratnya memiliki hak untuk kelangsungan hidup, mendapatkan kehidupan layak, tempat tinggal yang nyaman dan pelayan kesehatan yang memadai. Masih banyak hak-hak lain lagi yang tidak boleh digangu oleh orang lain, misalnya: hak mendaptkan pendidikan ayang layak, pekerjaan, dikriminasi, dll.

Pluralitas atau kemajemukan adalah suatu kenyataan. Orang harus dapat menerima realitas kehidupan di dunia yang plural/majemuk dan berbeda satu sama lain. perbedaan ini dapat dilengkapi dan saling menyempurnakan.

Adanya perbedaan, dapat membantu orang untuk mawas diri; mengenal kekurangan diri sendiri dan orang lain, tidak mudah menghakimi dan mengadili orang lain. Serahkan penghakiman kepada Allah, karena didalamNya keadilan yang sejati berada.

Hukum Cinta Kasih. adalah dasar utama kita harus toleran kepada sesama kita. cinta berarti menerima orang lain sebagai mana adanya. menurut Rm. P. Metodius Sarumaha, Ofm Cap. Cinta Kasih digambarkan sbb: Cinta kasih bukan saja sebuah perintah dari Tuhan kepada umat Kristen melainkan juga merupakan sebuah hukum dasar. Dari sini umat Kristen mempunyai satu hukum kehidupan yakni hidup dalam cinta kasih seperti Kristus. Cinta kasih menjadi dasar dan ukuran dari segala perbuatan untuk menghadirkan kebaikan Allah dan cinta-Nya kepada sesama. Yesus Kristus sendiri telah menyatakan cinta kasih Allah kepada umat manusia dengan kata-kata dan perbuatan-Nya yang nyata dan memberi daya hidup bagi yang menerimanya. Sejalan dengan itu Ia pun memerintahkan supaya umat kristiani hidup saling mengasihi, melakukan perbuatan-perbuatan kasih, bahkan mendorong supaya tidak takut berkorban demi cinta kasih seperti Ia sendiri telah perbuat. Cinta kasih bersumber dari Allah dan dikonritkan oleh Putera-Nya dalam kebersamaannya dengan orang-orang miskin. Setiap orang yang melanjutkan kasih itu dalam kehidupannya, ia lahir dari Allah dan mengenal Allah.

Pustaka
Kitab Suci (alkitab)
Katekismus Gereja Katolik, Percetakan Arnoldus, Ende, 1995
Dokpen KWI, Dokumen Vatican II, Gaudium Et Spes, Obor, Jakarta.
Pendidikan Agama Katolik SMA/SMK, Buku guru 1. Kanisius 2004
Komkat KWI. Iman Katolik-Kanisius/Obor-Jakarta, 1996
More about → Pelajaran 4: Sebagai Citra Allah Saya dan Sesama Adalah Saudara

Pelajaran ke 3: AKu diciptakan Sebagai Citra Allah

Posted by Unknown

1:26. Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” 1:29. Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. 1:30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian. 1:31. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

Dari teks Kitab Suci diatas nampaknya jelas bahwa manusia diciptakan menurut gambaran dan citraNya. Hanya kepada manusia diberi kemampuan untuk menata, melestarikan, mengembangkan, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.

1. Kemampuan Akal budi. Dengan akal budi kita dapat mengerti dan menyadari diri sendiri, manusia mengerti dan sadar bahwa ia sedang berbuat sesuatu. Ia dapat merefleksikan kembali apa yang ia buat. Hanya manusia yang dapat berbuat demikian, binatang tidak. Mengerti dan menyadari apa di luar dirinya, manusia dapat menyadari bahwa ada ada dan ada hujan. artinya bahwa manusia dapat menghubungkan 2 variabel yang berhubungan. dengan demikian manusia dapat mengembangkan dirinya, dan dapat membuat sejarah serta riwayat hidupnya. Manusia dapat membangun hubungan yang khas dengan sesama.

2. Kemampuan kehendak bebas. Artinya manusia dapat berkehendak tanpa di paksa atau tanpa paksaan. Kebebbasan adalah cirri khas manusia. hanya mansia dapat melakukan sesuatu dengan sengaja, melakukan sesuatu dengan tahu dan mau. Dengan demikian manusia dapat bertindak dengan moral. sebab hanya manusia yang dapat bertindak secara tahu dan mau, oleh karena itu manusia memiliki tanggung jawab moral.

3. Kemampuan menguasai. Tuhan menyerahkan alam lingkungan ini kepada manusia untuk dikuasainya, manusia bukannya menguasai ala mini secara sewenang-wenang, tetapi harus bertanggung jawab. Kita harus menjadi rekan kerja Tuhan untuk mengembangkan alam dan lingkungan ini sebaik mungkin. Dengan adanya kemampuan tersebut, kiranya jelas bahwa manusia adalah mahluk pribadi yang unik. manusia adalah mahluk yang bermartabat dan berkepribadian.

Dari segala ciptaan yang kelihatan, hanya manusia itu “mampu mengenal dan mencintai Penciptanya” (GS 12,3): ialah “yang di dunia merupakan satu-satunya makhluk, yang Allah kehendaki demi dirinya sendiri” (GS 24,3): hanya dialah yang dipanggil, supaya dalam pengertian dan cinta mengambil bagian dalam kehidupan Allah. Ia diciptakan untuk tujuan ini, dan itulah dasar utama bagi martabatnya:

“Apakah alasannya, maka Engkau meninggikan manusia ke martabat yang begitu mulia? Cinta yang tidak ternilai, yang dengannya Engkau memandang makhluk-Mu dalam diri-Mu sendiri dan jatuh cinta kepadanya, sebab Engkau menciptakannya karena cinta, karena cinta Engkau memberi kepadanya satu kodrat, yang dapat merasakan kegembiraan pada diri-Mu, harta abadi” (Katarina dari Siena, dial. 4,13).
More about → Pelajaran ke 3: AKu diciptakan Sebagai Citra Allah

Pelajaran 2: Saya Memiliki Kelebihan dan Kekurangan

Posted by Unknown

Manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, tidak ada manusia sempurna. Orang cacat sekalipun pasti memiliki kelebihan meskipun kekurangannya lebih mencolok. Setiap orang memiliki kemampuan dan bakat dalam ukuran dan lingkungan tertentu. Kemampuan dan bakat seseorang hendaknya dikembangkan. Kemampuan dan bakat yang kita miliki adalah anugerah dari Tuhan. Tuhan menghendaki agar talenta itu dikemangkan dan digunakan seperti yang terdapat dalam injil Matius 25:14-30 dan Lukas 19:12-27. Perumpamaan ini menceritakan tentang seorang tuan yang mempercayakan uangnya kepada ketiga hambanya. Hamba yang pertama dipercayakan lima talenta, yang kedua dipercayakan dua, yang ketiga dipercayakan satu. (dalam kitab Lukas disebutkan sang tuan membagikan sepuluh mina kepada sepuluh hambanya, masing-masing menerima satu mina, namun pada akhirnya hanya tiga pula yang diceritakan). Setelah itu sang tuan pergi. Diceritakan hamba yang pertama yang dipercayakan lima talenta berhasil memperoleh laba lima talenta, sementara hamba yang kedua yang dipercayakan dua talenta berhasil memperoleh laba dua talenta, namun hamba yang ketiga yang dipercayakan satu talenta menyembunyikan uangnya sehingga tidak mendapat laba apa-apa. (dalam kitab Lukas disebutkan hamba I memperoleh laba 10 mina, hamba II memperoleh laba 5 mina, sedangkan hamba III juga menyimpan uangnya.) Setelah sang tuan kembali dan bertemu dengan hamba pertamanya, maka sang tuan memberinya tanggung jawab yang lebih besar (dalam kitab Lukas disebutkan ia diberikan sepuluh kota), lalu hamba keduanya juga diberikan tanggung jawab yang lebih besar (dalam kitab Lukas disebutkan ia diberikan lima kota), tetapi hamba yang ketiga dihukum, dan uang yang dipercayakan kepadanya diberikan kepada hamba yang pertama.

Menggunakan dan mengembangkan talenta sebagaimana mestinya adalah panggilan dan tuntutan kristiani. Menerima kehendak Tuhan berarti menerima bimbingannya, karena Dia akan mengantar kita setapak demi setapak melalui keadaan konkrit diri kita dan lingkungan kita menuju ke keselamatan. itu semua akan terjadi sejauh kita menerima dan melaksanakan kehendakaNya.
Semua bakat dan kemampuan, yang kita miliki terbentuk dari beberapa factor: pertama Keturunan dan pengaruh lingkungan, misalnya warna kulit, bentuk rambut, warna mata, dsb. yang kedua adalah karena pengaruh lingkungan. kebudayaan alam dan lingkungan membentuk diri seseorang. alam dan kebudayaan afrika akan menghasilkan orang afrika, demikian pula Indonesia yang memiliki kebudayaan dan alam sendiri.
Faktor kedua yang membentuk diri dan bakat kemampuan seseorang adalah sebuah sikap menerima serta memperjuangkan apa yang perlu dikembangkan. Artinya bahwa kita perlu menyadari kita adalah manusia yang unik, beda dengan manusia lain, potensi yang kita miliki harus kita sadari, kita kembangkan dan dioptimalkan sebagai kodrat manusia.
Banyak cerita tentang orang-orang yang diremehkan talentanya oleh banyak orang. misalnya:
Albert Einstein: Ia baru bias bicara setelah menginjak usia 4 tahun, namun ternyata ia memiliki talenta yang luar biasa. Kini Einstein terkenal karena teori relativitas khusus dan relativitas umum. 1921 ia menerima Penghargaan Nobel dalam Fisika “untuk pelayanan kepada Theoretical Physics, dan khususnya untuk penemuan hukum efek fotolistrik.” Einstein menerbitkan lebih dari 300 ilmiah dan lebih dari 150 karya non-ilmiah. Dia sering dianggap sebagai bapak fisika modern.

Issac Newton: Ia termasuk murid yang dianggap kurang berhasil di bangku sekolah Dasar. Kini Sir Isaac Newton FRS terkenal sebagai seorang fisikawan Inggris, matematikawan, astronom, filsuf alam, alkemis, dan teolog yang dipandang dan dianggap oleh seorang sejumlah besar sarjana dan masyarakat umum sebagai salah satu orang yang paling berpengaruh dalam sejarah
Warner Von Braun: Gagal pada kelas 9 untuk bidang studi aljabar. Sampai saat ini Wernher Magnus Maximilian Freiherr von Braun adalah seorang fisikawan Jerman roket Amerika dan Astronautics insinyur, menjadi salah satu tokoh terkemuka dalam pengembangan teknologi roket di Jerman dan Amerika Serikat. Wernher von Braun kadang-kadang dikatakan sebagai insinyur roket terkemuka abad ke-20.

Menjadi tantangan bagi kita semua untuk berani mengembangkan talenta yang kita miliki. GBU.

Pustaka:
Pendidikan Agama Katolik SMA/SMK, Buku guru 1. Kanisius 2004
Komkat KWI. Iman Katolik-Kanisius/Obor-Jakarta, 1996
More about → Pelajaran 2: Saya Memiliki Kelebihan dan Kekurangan